BIAYA PENDIDIKAN MURAH BERKAT KAYA INOVASI
Itasia Dina Sulvianti membuktikan pendidikan yang baik tidak melulu harus disokong bangunan yang mewah dan berbiaya mahal . SMK Wikrama yang dipimpinnya berawal daru sepetak garasi
PENGANTAR
Untuk merayakan Hari Kartini, 21 April mendatang, Media Indonesia menampilkan 21 Perempuan yang memberi warna pada keberlangsungan semangat Kartini mewarnai zaman. Berikut ialah sosok kedelapan, perempuan pratiksi pendidikan. Dia mendirikan dan memimpin sekolah menengah kejuruan untuk memutus rantai kemiskinan.
Sisca Harum
Menemukan SMK Wikrama Bogor bisa mencemaskan hati jika Anda tidak kuat niat. Meski tidak jauh dari pintu tol Ciawi Bogor, letak SMK itu bersembunyi di perkampungan. Hanya ada satu papan penunjuk di mulut jalan kecil. Setelah itu, Anda harus menelusuri jalan kecil berkelok yang diapit tanah kosong, rumah penduduk dan sungai. Jalan pun hanya pas untuk satu mobil.
“Selamat datang. Pasti tadi sempat enggak pede (percaya diri) kalau ada sekolah disini,” Ujar Kepala SMK Wikrama Bogor, Itasia Dina Sulvianti ramah, Kamis (8/4).
Menurutnya, hampir semua tamu SMK yang baru pertama kali berkunjung sering deg-degan ,khawatir keliru jalan. Memang, sekolah yang berdiri di atas lahan sekitar 2.900 meter itu sering dikunjungi untuk studi banding. Sampai tahun ini, sudah mencapai sekitar 16 ribu kunjungan. Para tamu penasaran , bagaimana pendidikan diaplikasikan di sekolah itu sehingga mencuatkan potensi siswa.
“Potensi siswa bisa terasah jika dibesarkan dalam lingkungan positif. Jadi guru-guru di sini anti mengatakan hal negatif kepada siswa. Kami juga menerapkan kedisiplinan tanpa kekerasan,” kata Itasia yang akrab dipanggil Ita itu.
Bagi ibu empat anak tersebut, pada dasarnya disiplin dibangun melalui keteladanan. “ Jadi guru itu harus telaten, engga boleh putus asa. Harus dicontohkan dan konsisten,” katanya
Karena itu, Anda tidak akan menemui petugas kebersihan di sana. Semua warga sekoalah mengambil peran tersebut. Ada jadwal piket yang tertulis , bahkan di pintu WC siswa putra. Keberadaan petugas kebersihan, kata Ita, justru membuat siswa tidak peka dengan kebersihan dan kenyaman lingkungan
Selain kedisiplinan, jiwa Kewirusahaan juga ditanan dalam-dalam. Ada kantin yang benar-benar beroperasi dari siswa untuk siswa. ”Jadi ada jadwal jaga kantin. Mereka juga yang menyediakan dagangan,” ujarnya
Mitra bisnis
Tahun ini , ada 915 siswa dari berbagai daerah bersekolah di tiga jurusan SMK Wikrama, yaitu Administrasi Perkantoran, Rekayasa Perangkat LUnak (RPL) , dan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Biaya pendidikan mereka tidak sampai Rp. 200 ribu per bulan untuk mendapatkan pengajaran, memanfaatkan fasilitas sejumlah lab praktik, perpustkaaan yang buka hingga pukul 19.00 WIB, ujian berbasis web hingga fasilitas internet sepanjang hari,” Disini, satu kelas bisa menginap di sekolah jika kebetulan ada yang harus mereka selesaikan. Gurunya ikut menginap juga. Bisanya enggak pulang Jumat malam sampai hari Minggu,” cerita Ita.
Relasi guru dengan siswa di SMK Wikrama sengaja tidak diciptakan dalam bentuk subjek dan objek pengajaran, melainkan kemitraan . “Misalnya, kami berbisnis data entry untuk siswa jurusan administrasi kantor (sekretaris) karena banyak sekali perusahaan melakukan survey dan salah satunya membutuhkan data entry . Nah, guru bertindak sebagai supervisor,” jelas istri dokter hewan, Putratama Agus Lelana itu.
Begitu juga siswa-siswa Jurusan TKJ yang biasa menerima perbaikan komputer plus pemasangan jaringan hot spot untuk internet. Mereka yang mempelajari RPL juga menghasilkan program-program terkait manajemen pendidikan.” Biar mereka biasa dengan dengan dunia kerja sesungguhnya. Mereka akan berlatih disiplin , bekerja di bawah tekanan , dikejar target, teliti, hati-hati dan bertanggung jawab,” terang ita.
Dengan begitu , siswa , guru dan sekolah sama-sama mendapatkan pemasukan financial.” Kalau tidak begitu , biaya SPP bisa mahal hanya untuk operasional ,” kata Ita
Tidak heran jika kemudian sekolah ini banyak diminati. Tahun lalu, sekitar 800 orang mendaftar . Padahal, kapasitas siswa baru terbatas 300 kursi. “ Kami menerima siapa saja , asal dia memang mau mengubah hidupnya,” ujar Ita.
Jadi , siswa dipilah bukan bukan berdasarkan peringkat nilai ujian SMP, melainkan wawancara dengan siswa dan orang tua, tes IQ, psikotes, sampai rekam jejak rapor SMP. “ Kami juga member kuota 30 % per tahun untuk anak-anak yang bodoh, mereka hanya mismanagement, “ terang Iita yang kerap menjadi pembicara ke banyak daerah.
Garasi
Sebelum mendirikan dan mengepalai SMK Wikrama, Ita tidak bersentuhan dengan dunia pendidikan SMK. Dia sarjana Matematika lulusan Institut Teknologi Bandung tahun 1986. Semasa kuliah, ia aktif di teater bersama Sujiwo Tejo. “Makanya orang-orang bingung.
Kok saya bisa jadi Kepala Sekolah.Karena dulu pake anting aja cuma satu,”kenangnya geli.
Kelar sarjana, Ita melanjutkan pendidikan manajemen data dan analisis statistik berbasis komputer di Amerika Serikat selama 16 bulan. Pulang dari Amerika, ia mengandung anak kedua . Ita lantas melanjutkan pendidikan pascasarjana di IPB.
Sembari kuliah, Ita bergabung dengan lembaga kursus komputer yang didirikan temannya . Ita melamar kerja di bagian administrasi. Tugasnya antara lain mengurus pendaftaran siswa . “ “Banyak yang mencemooh, ngapain sich punya sertifikat Amerika kok kerja begitu,”kisahnya
Namun, Ita bergeming. Dia tekun bekerja sembari mengamati bagaimana lembaga kursus itu beroperasi. Jabatannya naik menjadi Kepala Litbang sampai Wakil Direktur.
Tahun 1993, perusahaan kolaps. Demi menyelamatakan karyawan, Ita lantas mengambil alih kepemilikan dengan menyuntikan modal yang menurutnya tidak seberapa. Jadilah Ita sebagai pemilik dan direktur lembaga kursus tersebut. Terbukti, langkah tatktisnya berhasil. Selanjutnya , banyak peserta kursus yang “memprovokasi” agar Ita sekalian saja membuat pendidikan itu menjadi formal. Ita terpancing membuat sebuah sekolah.
Saat itu, SMK masih kalah pamor dibandingkan SMA serta dianggap sekolah “buangan”.” Itu tahun 1996. Saya sering sekali melihat anak SMK nongkrong di jam sekolah. Saya pikir, seharusnya bisa dibuat SMK yang professional,” kata Ita.
Karena itu, Ita membulatkan tekad. Dia menyusun kurikulum sendiri yang kini dikenal dengan Kuriikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pendidikan dimulai di garasi. Saat itu siswanya hanya 34 orang.
Tahun 1999, angkatan pertama SMK di garasi itu lulus dengan nilai bagus. “Angkatan kedua lebih heboh. Ada yang dapat nilai 9 untuk ujian matematika,” katanya.
Tahun 1998, Ita berniat pindah lokasi dari garasi ke sebuah tempat yang lebih layak. Kontrak kerjasama telah ditandatangani, tetapi kemudian pecah kerusuhan Mei 1998. Akibat kalut . si empunya lokasi yang peranakan Tiong hoa membatalkan kerjasama secara sepihak. Ita kalang kabut. “Brosur sudah disebar. Semua anak sudah tahu kita akan pindah sekolah awal tahun ajaran baru,” certianya.
Namun, Ita tak surut. Didepan lokasi, ia melihat sebuah vila.Karena kepepet , ia sewa vila tersebut untuk sekolah sementara. “Kontraknya 27 juta . Mahal saat itu . Lalu kamar-kamar seukuran 6 x 8 meter saya jadikan kelas. Ada juga yang belajar di garasi,”tambahnya
Tak ayal, siswa dan orang tua sempat protes keras. Mereka merasa ditipu. “Saya jelaskan apa adanya. Seberat apapun masalahnya, yang penting kita jujur. Ya sudah, masalah itu reda,”ujarnya.
Sebuah rumah tua dekat vila itu pun ia kontrak juga untuk kelas. Ita menggunakan seng untuk atap. Untuk mengakali udara panas, Ita memasang paralon yang berlubang di atas atap seng. “Kalau jam 10, saya nyalakan air jadi seperti hujan buatan. Kelas bisa lebih nyaman,”ujanrya lantas tertawa.
Tahun 2000, Ita baru mulai membangun SMk Wikrama dilokasi sekarang.. Kata Ita, ia mencicil untuk membeli tanah yang dijual Rp. 150.000 per meter kala itu.” Enggak ada dana untuk membangun. Tapi saya yakin saja bisa. Kuncinya disini,” kata Ita sembari menunjuk kepala
Suaminya yang juga pelukis lantas melukis bangunan sekolah.”Setiap saya masuk sekolah darurat, saya melihat lukisan itu. Saya yakin bisa,”katanya.
Visualisasi yang kuat atas sebuah sekolah baru membuat Ita focus pada upaya pengumpulan dana untuk membangun. Dia bekerjasama dengan sejumlah orang. Setahun kemudian, Sekolah baru itu beroperasi.” Sampai sekarang sudah enmoat lantai, malah enggak berhenti-henti,” katanya lalu menderai tawa.
Dia berencana membuat kebun di atap.”Calon Penghuninya” ialah tanaman-tanaman hias yang kelak akan disewakan. “Punya SMK harus inovatif. Karena sebetulnya biaya pendidikan per anak itu memang mahal, jadi harus diakali,” katanya pasti (M-2)